Cerita Sebelumnya:
Cerpen: Bintang Telah Memudar (3)
Amel hanya diam mendengar pernyataan Adith, ia tak menyangka kalau Adith akan berkata seperti itu.
“kamu…kamu…, kamu bercandakan Dith?” aku tau kamu pasti bercanda.”
“Aku nggak bercanda sama kamu Mel!” aku bener-bener sayang sama kamu.”
Amel pun kembali terdiam, setelah Adith meyakinkannya akan perasaan Adith padanya.
“Kalau kamu nggak percaya akan perasaanku, kamu bisa tanyakan ke Dion!! Ia tau semua bagaimana perasaanku padamu.”
Amel kemudian melihat Dion dari kejahuan, lalu melangkah menghampiri Dion yang sedang melihat-lihat pemandangan sekitar. Tanpa berkata apapun Amel meninggalkan Adith sendirian, namun Adith cepat-cepat mengejar Amel.
“Ion, kenapa kamu membohongi aku?”
Dion terperanjat dan menoleh kesamping, tak menyangka Amel sudah ada di sampingnya bersama Adith.
“Apa maksudmu Mel?” Dion bingung atas pertanyaan Amel.
“Tidak usah pura-pura, kamu taukan perasaan Adith ke aku? Tapi kenapa kamu tak pernah ngomong ke aku Ion?”
“Aku saja, baru tau sekarang kalau Adith suka sama kamu.”
“Aku nggak percaya sama kamu Ion.” bentak Amel ke Dion.
Amel pun lari menjauh dari kedua sahabatnya. Tapi Adith dan Dion mengejar Amel untuk menjelaskan semuanya.
“Brengsek!! kamu Dith, kenapa kamu tidak menjelaskan ke Amel, kalau aku memang baru tau perasaanmu ke Amel sekarang setelah kamu kasih tau aku.” Sambil mendorong Adith dan Adith pun terjatuh, terus bangkit dari jatuhnya.
“Kamu yang Brengsek!! Penipu!! Sok mendukungku padahal kamu sendiri juga sukakan sama Amel?”Adith pun ganti mendorong Dion. Dionpun terguling ketanah, dan cepet-cepet bangkit.
“Apa maksudmu!!?”
“Alah… kagak usah mengelak, aku sudah tau semuanya karena aku sudah membaca semua diarymu yang berisikan tulisan cinta ke Amel.”
Dion kaget mendengar perkataan Adith.
“Lancang!! Kamu Dith, beraninya kamu mencuri dan membuka diaryku.” Dionpun menonjok Adith sampai berdarah.
“kalau memang, aku suka sama Amel kenapa Dith!!?”Dion terus meluncurkan tinju ke Adith, Adhitpun juga tidak mau mengalah dan ganti meluncurkan tinju ke Dion. Keduanya sama-sama dikuasai emosi. Kemudian Amel menghampiri kedua sahabatnya dan mencoba melerainya.
“Cukup…cukup…cukup. Sudah berhenti!!!”
Dion dan Adith sadar bahwa ada orang yang sedang melerai mereka, Akhirnya mereka berhenti berkelahi. Setelah itu Dion dan Adith melihat ke atas melihat siapa yang melerai mereka, ternyata Amel. Mereka malu bukan pada Amel.
“Kalian seperti anak kecil aja!!” bentak Amel kepada kedua sahabatnya.
“Maaf kan kami Mel, sebab kami…”
“Sudahlah, nggak usah menjelaskan apa-apa aku udah denger semua pembicaraan kalian tadi waktu berkelahi. Dan saya juga sudah putuskan siapa di antara kalian yang akan menjadi pacarku.”
Dion dan Adith pun penasaran dan berpikir kira-kira siapa yang akan di pilih Amel.
“Pertama Dion, Ion aku jujur sama kamu, kamu itu orangnya sangat baik sama aku dan pengertian sama aku, dan aku tidak mau kehilangan kamu.”dan
“Selanjutnya kamu Adith, Dith aku juga jujur sama kamu, kamu itu orangnya dewasa, pintar, pemberani dan kamu tuch orangnya terbuka sama aku. Dan aku juga tak mau kehilangan kamu. Jadi, salah satu diantara kalian tidak akan aku jadikan pacar, tapi dua-duanya akan aku jadikan sahabat sejatiku untuk selamanya.”
Dion dan Adithpun merasa puas akan keputusan Amel, dan keputusan Amel tidak membuat diantara Dion dan Adith kecewa.
“Sekarang kalian udah tau jawabannya, maka daripada itu kalian harus saling memaafkan.”
Dion dan Adith pun menuruti perintah Amel, akhirnya mereka Saling memaafkan dan berpelukan.
“Ha…ha…ha.” semua tertawa terbahak-bahak dan akhirnya mereka bertiga kembali menjadi sahabat, setelah semuanya selesai ketiganya memutuskan untuk pulang.
Label: Bintang Telah Memudar, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
Cerpen: Bintang Telah Memudar (2)
“Ada apa dengan Amel?”
“Amel sich, tidak apa-apa. Tapi aku yang apa-apa, karena selama ini aku Tak menyangka kalau aku sebenarnya suka sama Amel…, sejak kita mulai menginjak SMA.”
Dion kaget akan perkataan Adith, dan bagi Dion ucapan Adith seperti petir yang menyambar di siang hari.
“Dion gimana menurutmu tentang perasaanku ke Amel, apa yang harus aku perbuat?”
Dion hanya diam saja tak menghiraukan pertanyaan Adith, karena ia memang tak mampu untuk berkata-kata lagi, karena hatinya sudah hancur.
“Ion…, kenapa sich kamu kok hanya Diam saja dari tadi?” dan juga tak menjawab pertanyaan aku.”
“Aku hanya takut Dith.” Dion tak sadar bahwa ia sudah berkata salah pada Adith.
“Maksud kamu apa Ion?”
Dion terkejut akan pertanyaan Adith, Dion tak mau kalau Adith tau sebenarnya. bahwa Dion juga suka pada Amel, Dion pun segera meralat ucapannya.
“Eee…eee, maksudku…, aku takut kalau kamu menyatakan cinta ke Amel persahabatan kita akan pudar.”
“Ooo…,aku kira kamu takut apa?” iya sich…, aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi menurutku itu tidak mungkin terjadi. Kalau memang nantinya aku dengan Amel jadian, kamu akan menjadi sahabat yang terbaik bagi kami.”
“Apa kamu yakin, kalau Amel akan menerimamu?”
Adith pun lekas berpikir sejenak memikirkan perkataan Dion.
“Sebenarnya aku juga sempat ragu akan hal itu. Tapi, aku akan berusaha meyakinkan Amel, oia dan kamu juga harus mendukungku Ion.”
“I..i..iya, pasti Dith.” Dengan hati terluka Dion pun menyanggupi semua permintaan Adith.
Tidak lama kemudion Amel menyusul kedua sahabatnya itu. Dion dan Adith mengetahui kedatangan Amel, cepat-cepat Dion dan Adith bersikap biasa-biasa saja, seolah dibuat bahwa tidak ada pembicaraan yang serius diantara mereka.
“kalian kenapa, kok seperti itu melihat kedatanganku?” Tanya Amel pada kedua sahabatnya, yang sedang menatap Amel dengan serius.
“oh..nggak, nggak ada apa-apa.” Jawab Dion dan Adith.
“Oia, Dion kamu nggak marahkan sama kita?” Tanya Amel pada Dion.
“Marah? Ngapain aku marah sama kalian.”
“Sebab kamu cuek banget tadi sama kita, jadi aku pikir kamu marah sama kita.”
“Ya, enggaklah masa dengan sahabat sendiri harus marah.”
“Ha…ha…ha.” Kemudian Amel, Dion, dan Adith tertawa terbahak-bahak.
Lalu Adith teringat sesuatu, bahwa ia ingin menyatakan perasaannya pada Amel.
“Mel, aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”
Suasana pun kembali sunyi, tak ada suara gurau dan tawa lagi. Yang terdengar hanyalah suara angin dan kesejukan daerah pegunungan.
“Mau, bicara apa Dith?”
Adith pun menarik tangan amel, diajaknya Amel agak menjauh dari Dion. Dion hanya diam saja dan menahan rasa sakit yang ada di hatinya, cepat-cepat Dion membuang muka dari Adith dan Amel lalu ia memandang luas perkebunan tanaman teh disekitar pegunungan.
“Kenapa, bicaranya harus menjauh dari Dion, Dith?”
“Karena aku hanya ingin bicara berdua dengan kamu.”
“Apa maksudmu, Dith?” tegas Amel.
“Amel, aku akan jujur ke kamu. sebenarnya aku…aku…aku….”
“Aku…aku…aku, aku kenapa Dith?” Amel semakin penasaran kepada Adith.
“Aku…Aku cinta sama kamu Mel, dan apakah kamu mau menerima cintaku ini?”
Label: Bintang Telah Memudar, Cerpen
Pagi ini hari lumayan cerah, tak seperti hari-hari biasanya seolah-olah matahari enggan menampakkan batang hidungnya. Amel pun melangkah keluar dari kamarnya menuju teras depan untuk merasakan segarnya udara pagi itu.
Hai, guys. Sapa Dion pada Amel yang sedang asyik merasakan udara pagi saat itu. Dion pun melangkah menghampiri Amel.
Hai, juga Dion.
Lagi asyik nich?
Amel pun hanya tersenyum sambil menoleh ke arah Dion.
Ngomong-ngomong, hari ini kamu ada acara apa Mel?
Sepertinya aku tidak ada rencana kemana-mana, emang ada apa Ion?
Gimana Kalau kita keluar bareng?
Amel pun berpikir sejenak untuk memutuskan ajakan Dion. Dan akhirnya Amel pun setuju keluar bersama Dion.
"Baik, kalau begitu. Kapan kita keluar bareng?
"Hari ini juga, oke?
Oke. Kalau begitu tunggu sebentar ya…, aku ganti baju dulu."
Kemudian Amel tak jadi melangkah ke dalam rumah, sebab ia teringat pada Adith.
Oia, gimana kalau kita mengajak Adith juga?
Sebenarnya Dion tidak suka kalau Amel juga mengajak Adith. Karena Dion hanya ingin keluar berdua saja sama Amel.
Ion, gimana kok hanya diem aja?
terserah kamu aja. Timpal Dion dengan berat hati.
Sepertinya kamu nggak suka kalau aku mengajak Adith?
Enggak juga. Dengan raut wajah malas-malas. Amel sadar kalau Dion tak menginginkan Adith ikut bersama mereka.
Jangan begitu dokn Dion, Adith kan juga sahabat kita.
Dengan sangat terpaksa Dion pun akhirnya, menghubungi Adith untuk di ajak keluar bersama. Tak berapa lama adith pun sudah tiba di rumah Amel, sedangkan Amel juga sudah siap untuk keluar bersama kedua sahabatnya.
Hai guys.
Hai juga Dith. Sapa Dion dan Amel.
Gimana, kalian berdua sudah siap? Tanya Dion pada kedua sahabatnya.
Oke, kita sudah siap…. Jawab Amel dan Adith.
Akhirnya Amel, Dion, dan Adith pergi ke daerah pegunungan. Yang dimana suasana pegunungan adalah suasana yang sangat di sukai oleh ketiga sahabat itu. Dan mereka pun sangat menikmati perjalanan menuju ke daerah tujuan. Lalu sampailah mereka ketempat tujuan.
Wow, Indahnya. Aku sangat suka suasana ini. Teriak Amel.
Iya, sungguh mempesona. Tambah Adith
Dan Dion hanya terdiam saja, melihat kedua sahabatnya sangat menikmati suasana saat itu, Dion juga melihat ekspresi bahagia di wajah Adith saat melihat wajah cantiknya Amel. Dion pun semakin terluka saat Amel juga mengimbangi canda dan tawa Adith, dan ia menyesal telah mengajak Adith. Di lain pihak, Amel sadar kalau Dion sedang mengamati tingkah Amel dan Adith. Akhirnya Amel melangkah menghampiri Dion serta dikuti Adith yang berada di belakang Amel.
Kenapa Dion, kok kamu hanya diam saja? Tanya Amel pada Dion.
Heh. Aku tak apa-apa, sudah kalian jangan hiraukan aku dan lanjutkan saja bermain kalian. Amel merasa tidak suka akan sikap Dion.
Jangan begitu donk, Dion. Timpal Adith yang juga angkat bicara, karena Adith juga nggak suka akan sikap Dion. Dion pun hanya membisu dan melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Dion…, sebenarnya ada apa denganmu? teriak Amel. Namun, Dion tak menjawab pertanyaan Amel dan ia terus melangkah pergi.
Sudah biarkan aku saja yang bicara dengan Dion, kamu disini saja Mel. Ujar Adith pada Amel. Dan Amel pun menurut akan perintah Adith. Setelah itu adith melangkah pergi meninggalkan Amel sendirian di dekat tanaman kebun teh, untuk mengejar Dion.
Ion..! kenapa sich kamu bersikap seperti itu ke kita? apa kita punya salah ke kamu, sehingga kamu marah sama kita." Tanya Adith ke Dion.
Kenapa kamu mengikuti aku Dith? dan asal kamu tau aku nggak marah sama kalian, aku Cuma ingin sendirian."
kalau memang kamu nggak marah, aku mau ngomong sesuatu ke kamu.
Apa? Tanya Dion pada Adith dengan rasa penasaran.
Ini soal Amel.
Dion semakin panas saat mendengar nama Amel disebut, dan nama Amel pula yang sekaligus sebagai bahan untuk di bicarakan oleh Adith.
Label: Bintang Telah Memudar, Cerpen